Sabtu, Juli 19, 2008

Boleh Pecaya Boleh Tidak!

Ini sebuah fakta, dan terjadi sudah 2 kali dalam hidupku. Pertama dua tahun yang lalu, saat saudara kembarku akan meahirkan anak keduanya. Bidan memperkirakan bayi yang dikandung saudara kembarku akan lahir pada pertengahan bulan. Tapi ternyata perkiraan bidan meleset, pada awal bulan bayi itu lahir. Waktu itu ibu sang bayi sedang ngajar dan dalam kondisi sehat tanpa ada keluhan. Akupun juga sedang ngajar ditempat yang berbeda. Entah karena apa tiba-tiba saja perutku mules, sampai-sampai aku tak kuat ngajar, dan kelas aku titipkan pada seorang teman. Aku waktu itu sempat bilang sama temen kalo mulesku seperti mules orang mau melahirkan. Soalnya kalo karena makanan rasanya juga tak mungkin karena 2 tahun yang lalu aku nyirik pedas.
Sore hari, aku ditelepon oleh saudara aku, katanya dia hendak melahirkan. Dan ternyata benar malam hari dia berangkat ke bidan, keesokan paginya dia melahirkan. Kembaran aku bilang bahwa dia sama sekali tak merasakan sakit saat bayinya akan lahir, tapi akulah yang malah kesakita. Masak iya sih aku yang merasakan sakitnya? Awalnya aku tidak percaya, tapi ini sebuah fakta.
Kini hal itu terulang lagi. Berawal pada hari kamis, 10 Juli kemarin pagi-pagi perut aku terasa mules, aku pikir karena hawa yang sangat dingin, sebab agak siangan setelah udara terasa hangat mulesnya hilang. Tetapi hari jumatnya seperti gak bisa ditolerir, pagi sekali sudah mules lagi, dibawa kebelakanng juga gak bisa keluar. Hari Sabtu, saya ketemu sama saudara kembar dirumah ibu. Entah kenapa tiba-tiba dia bilang jangan-jangan aku nglarani dia yang hendak melahirkan. Kalo memang iya aku katakan padanya cepetan aja kalo mau ngelahirin, biar aku tak kelamaan kesakitannya.
Hari Minggu, 13 Juli 2008, sang jabang bayi yang ditunggu-tunggu akhirnya lahir juga. Dan ternyata memang iya, kalo yang nglarani saudara kembarku adalah aku, sebab setelah itu aku tak lagi mulas-mulas lagi.
Selasa pagi seluruh badanku terasa lemah lunglai, aku tak kuat untuk beraktifitas, habis sholatpun aku tiduran lagi, dan hari itu aku tak masuk kerja. Karena merasa tak sanggup mengasuh anak sendirian dirumah dalam kondisi badan tidak fit, akhirnya aku minta untuk diantar kerumah ibu agar anak-anak ada yang bantu ngramut. Dan ternyata sampai disana aku mendapat kabar saudara kembar aku panas dari semalam. Dan ini juga terjadi didua tahun saat paska melahirkan dia sakit dan sampai tidak bisa berjalan, saat itupun aku juga ikutan sakit. Semua bukanlah sebuah keinginan, tapi adalah kenyataan yang ada. Subhanallah

Selasa, Juli 01, 2008

Libur Telah Tiba

Seperti judul lagu yang dinyanyikan Tasya, yang lagu-lagunya sangat digemari Alya. Saat ku ditanya teman tentang rencana liburan ini akan kemana dan mau apa? Aku hanya menjawab ya akan berlibur bersama anak-anak. Entah mau kemana aku juga belum tau, yang pasti aku ingin habiskan masa liburan bersama anak-anak. Namun liburan kali ini bukanlah waktu yang mengasyikkan, sejak hari Sabtu kemarin Lila panas, sampe sekarang pun lum kunjung reda. Rewel yang bisa dia perbuat. Aku hanya bisa bersabar dan berdoa setelah berusaha untuk mengusahakan kesembuhannya.

Genap 30 Tahun

Alhamdulillah, seiring dengan habisnya masa bulan Juni kemarin, usiaku genap memasuki kepala 3. Tak terasa 30 tahun tlah kujalani kehidupan ini. Tak banyak kebaikan yang kutanam, padahal itu yang paling kudambakan dalam hidupku. Dengan ku tanam kebaikan, maka ku yakin akan datang kebaikan pula padaku. Namun, rasa kurang ikhlaslah yang melunturkan kebaikan yang telah ku tanam. Aku merasa itulah yang terjadi padaku, sehingga aku kurang pula mendapatkan kebaikan itu. Mudah-mudahan setelah ini aku bisa menjadi lebih ikhlas dalam menjalani kehidupan ini. Terutama dalam mengayomi keluargaku. Amin...

Minggu, Juni 29, 2008

Sembilan Ekor Kambing Itu Temukan Penggebalanya

Setelah menunggu dipelataran LPI sejak hari Jum'at kemarin, akhirnya pada hari Sabtu-nya para kambing itu dituntun menuju panggung kehormatan untuk bertemu dengan penggembalanya. Sudah 4 periode ini kalo aku tak salah hitung, LPI dimana aku bekerja memberikan hadiah sebagai penghargaan bagi karyawannya yang berprestasi dan berdedikasi tinggi berupa kambing. Dan tahun ini adalah tahun terbanyak penerimanya, diantara 140 karyawan itu yang tahun ini berhasil menjadi penggembala adalah ustadzah Purwitaningsih dari PAUD, ustadzah Urul Winarni dari TK, ustadzah Sri Yuliani dari TK, ustadz Edi Suryanto dari group Cleaning Service, ustadzah Choirun Nikmah dari SD, ustadzah Anis Sholihah dari SD, ustadzah Ida Rodiani dari SD, ustadzah Sri Wahyuni dari SMP, dan ustadzah Sringatin dari Layanan Gizi. Selamat dan sukses untuk panjenengan semua, semoga teman-teman yang lainnya bisa terpacu untuk menambah prestasinya. Amin

Selasa, Juni 17, 2008

Kejam, Kiler Ataukah Jahat

Apasih bedanya kejam, kiler (kereng dalam bahasa jawanya), dan jahat? Nurut pendapatku sih kalau kejam itu emosi yang dilampiaskan dengan menggunakan kekerasan fisik, tapi kalau kiler / kereng itu adalah sikap emosi seseorang yang ditunjukkan melalui kemarahan lisan ataupun bahasa tubuh. Sedangkan jahat adalah sebuah pengertian orang yang mempunyai hati yang punya niat jelek. Jadi kalaulah dicermati disini, aku bukanlah orang yang masuk dalam kategori kejam ataupun jahat, tapi mungkin boleh dimasukkan dalam kategori kiler dalam hal pengajaran.
Kemarin ada seorang temen yang kebetulan dia atasan aku juga. Dia sampaikan ke aku bahwa dia cocok denganku tapi ada satu yang kurang dari aku, katanya itu masukkan dari temen-teman. Katanya aku termasuk guru yang "Kereng". Temen aku bilang anak-anak banyak yang takut padaku mungkin salah satunya karena mata aku yang seperti ini. Lah kalau urusan mata mah kan udah dari sononya, mana mungkin aku bisa merubahnya?
Aku akui, aku memang pernah marah ke anak didikku. Tapi aku punya alasan untuk marah, misalnya mereka tidak tertib sehingga mengganggu proses belajar, atau mereka melanggar tata tertib yang telah ada, dll.
Jujur, aku tak bisa ngajar dengan baik jika anak didikku dalam kondisi tidak tertib. Sementara bagiku anak didikku adalah anak yang lain dari pada yang lainnya. Rata-rata mereka anak yang hebat dan aktif. Meski aku tau mereka seperti itu karena butuh perhatian lebih. Kadang kondisi capek membuat aku jadi seperti itu. Dan semarah apapun aku ke anak didikku aku belum pernah yang namanya melakukan kekerasan pada mereka. Namun seberapa besar rasa takut mereka padaku? Itulah yang sampai saat ini belum aku tau.
Pernah pada kesempatan refleksi bersama, ada seorang anak disampaikan oleh Kepala Sekolah si A takut sama aku, tapi dalam keseharian saat bersama aku si A tampil biasa-biasa saja, dia berani pula bertanya padaku. Tidak ada sorot mata yang menunjukan ketakutan. Benarkah aku guru yang jahat? Sedih rasanya hatiku, kenapa aku tergolong orsng yang kereng.
Disini aku sangat berharap jika ada satu atau lebih wali murid yang membaca tulisan ini, dan merasa anaknya takut pada saya atau pelajaran komputer, sudilah kiranya langsung mengkomunikasikan permasalahannya pada saya. Mohon maaf jika selama mendampingi anak-anak panjenegan sami kurang maksimal.